AGENTS

Senin, 10 Oktober 2011

Guru Mendisain Tujuan Instruksional Pembelajaran


 

Dalam postingan tgl. 30 Juni 2011, saya sudah memaparkan pokok 1 dari model pembelajaran Yesus menurut Injil Matius, yaitu Guru mencari Murid (Mat. 4:18). Dalam ayat 18, kita mendapat informasi dari Matius tentang Guru Agung yaitu Yesus Kristus mencari murid (guru mencari murid). Dalam postingan ini, saya  memaparkan pokok kedua, yaitu Yesus Guru Agung itu telah mendisain tujuan instruksional pembelajaran-Nya sejak kekekalan. Tujuan seperti apa yang disampaikan dalam laporan Matius, akan kita lihat dalam bahasan berikut.

Para pembaca blog Yesus Guru Agung yang saya kasihi, baik yang berada di Mallaysia, Amerika, Hongkong, Jepang, Mongolia dan negara-negara lain yang berkenaan membaca blog ini, saya Yonas Muanley, hanyalah pelayan firman Allah, yang ingin menyampaikan apa yang saya pahami dari pendekatan Edukatif. 

Dasar pembahasan tentang pokok kedua Guru Mendisain Tujuan Instruksional Pembelajaran didasarkan pada Matius 4:19 yang isinya sbb: Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

Mari, ikutilah Aku adalah ajakan dan perintah[1]. Ajakan dan perintah dari Guru Agung yaitu Yesus Kristus. Ajakan dan perintah yang membawa murid-murid-Nya pada tujuan dari ajakan dan perintah itu yaitu pada kata:

Kamu akan Ku (Yesus) jadikan penjala manusia (Mat. 4:19). Berdasarkan data ini, telah menjadi jelas bahwa tujuan instruksi atau tujuan instruksional yaitu perubahan seperti apa yang hendak terjadi dalam diri para murid setelah mereka mengikuti pengajaran Yesus. Berdasarkan Matius 4:19 menjadi jelas bahwa perubahan yang diharapkan Yesus Guru Agung itu tidak lain adalah murid-murid mampu menjadi penjala ikan.

Apa maksud menjadi penjala manusia?

Menjadi penjala manusia dapat berarti alih profesi, yaitu dari mampu menjala ikan beralih menjadi mampu menjala manusia. Jala adalah sebuah alat untuk menankap ikan. Ada banyak cara menangkap ikan, salah satunya adalah jala. Untuk menangkap ikan diperlukan kemampuan. Kemampuan dalam hal mempergunakan jala, kemampuan mengetahui di mana ikan berada, kemampuan mengetahui cuaca yang cocok untuk menangkap ikan, dll.

Kemampuan murid-murid dalam menangkap ikan tidak dapat diragukan. Boleh kita katakan, murid-murid-Nya telah memiliki kompetensi menangkap ikan. Dalam konteks kemampuan itu, Yesus memanggil mereka dan menyampaikan kepada mereka bahwa mereka akan dijadikan penjala manusia. Artinya melalui murid-murid itulah akan ada orang lain yang mendengar Injil Yesus Kristus dan menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Selanjutnya para pembaca dapat mencari informasi dari rekan-rekan Biblika (ahli tafsir Alkitab) akan arti dari menjadi penjala manusia dalam pendekatan teologi eksegesis. Apa yang ingin saya sampaikan disini adalah pengajaran Yesus kepada murid-murid yang didahului dengan penyampaian tujuan.

Penentuan tujuan itu sangat penting karena berdasarkan tujuan tersebut dipilih prosedur-prosedur pembelajaran yang memungkinkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan yang dibahas disini adalah menjadi penjala manusia. Dengan memahami tujuan tersebut maka akan menolong guru memilih prosedur-prosedur pengajaran. Prosedur pengajaran/ yang dimaksud itu seperti pemilihan metode pengajaran, media pengajaran, tempat pengajaran dll. (akan dibahas dalam postingan berikut).

Apa yang dilakukan Yesus Guru Agung dalam laporan Matius 4:19 dengan teori model Instruksional  yang beracuan tujuan
Dalam teori disain intruksional, khususnya model instruksional yang beracuan tujuan dinyatakan bahwa tujuan  pengajaran adalah perubahan apakah yang saya/guru inginkan dalam diri peserta didik yang mengikuti pelajaran saya. Dengan kata lain, tujuan instruksional pembelajaran adalah perubahan-perubahan yang diharapkan guru yang akan terjadi dalam diri peserta didik selama atau setelah selesai mengikuti proses pembelajaran. 
Berdasarkan informasi di atas, menjadi jelas bahwa setiap guru hendaknya mampu merumuskan tujuan pengajaran. Usaha atau perhatian terhadap kewajiban guru untuk memikirkan tujuan-tujuan instruksionalnya secara jelas telah menjadi perhatian positif. Keuntungan yang paling utama dari adanya perhatian pada tujuan-tujuan instruksional yang spesifik ialah adanya dorongan pada pihak guru untuk memikirkan pertanyaan: perubahan-perubahan apakah yang saya (guru) inginkan terjadi dalam diri siswa saya? . Dengan kata lain model instruksional yang beracuan tujuan mula-mula memperhatikan soal perilaku yang seharusnya ditunjukkan oleh siswa pada akhir pengajaran. Stelah perilaku siswa yang diinginkan itu, yaitu tujuan dirumuskan secara spesifik, pemilihan prosedur pengajaran menjadi  mudah sekali dan pada umumnya, jauh lebih efektif. Perubahan apakah yang saya inginkan dalam diri siswa-siswi saya?[2]
Jadi, model pembelajaran Yesus Kristus menurut Matius ialah Guru mampu merumuskan dan memberithukan  tujuan pengajaran  yang jelas kepada peserta didik.
Implikasi
Jadilah pengajar yang memiliki kemampuan merumuskan tujuan pengajaran. Bila kita mendapat peluang untuk mengajar, jangan lupa memikirkan, merenungkan, menetapkan tujuan dari mata kuliah/mata pelajaran/bahan seminar yang akan kita sampaikan kepada pendengar. Tujuan pengajaran untuk materi yang kita akan sampaikan adalah perubahan apa yang saya harapkan terjadi pada mahasiswa/peserta didik/murid/pendengar. Dengan kata lain, ketika kita hendak mengajar, yang pertama kita pikirkan adalah perubahan apakah yang saya ingingkan terjadi dalam diri siswa-siswi/pelajar/mahasiswa/peserta didik saya?
Selamat melatih diri merumuskan tujuan, sampaikan tujuan tersebut dan capailah tujuan itu dengan menentukan prosesdur pembelajaran. Pembahasan tentang penentukan dan penggunaan prosedur pembelajaran, akan disajikan dalam postingan berikut.
               


[1] Tafsiran Alkitab Masa Kini
[2] W.James Popham dan Eva L. Baker, Jakarta : Rineka Cipta, 2005

0 komentar:

POEM DIDAKTI