AGENTS

POEM DIDAKTI

Friday, March 28, 2014

Pendamaian oleh Darah Yesus Kristus





Dalam Perjanjian Lama, umat/orang percaya yang akan melakukan pendamaian atau agar diterima oleh Tuhan maka umat harus mempersembahkan korban berupa korban hewan, tetapi yang tambun bukan yang kurus alias tidak sehat atau korban domba yang tidak gemuk. Para imam menumpangkan tangan kemudian dipersembahkan pada Allah. Pada zaman Perjanjian Baru, telah digenapi oleh Yesus Kristus. Orang yang percaya kepada Yesus Kristus telah didamaikan dengan Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus (lihat visual di atas) Sama-sama membutuhkan darah. Darah Yesus adalah darah Ter-Agung untuk pendamaian yang percaya kepada-Nya. Pengorbanan Yesus menjadi dasar dan sumber semnagat orang percaya dalam PELAYANAN PENDAMAIAN

Wednesday, December 4, 2013

Mewarisi Kekayaan Sorgawi sebagai Pengharapan Gereja

Pokok di atas merupakan tema khotbah PGI Wilayah DKI pada beberapa tahun lalu. Khotbha dengan tema: Mewarisi kekayaan sorgawi sebagai pengharapan Gereja sebagaimana yang dimaksud, telah saya bawakan dalam salah satu gereja anggota PGI di wilayah Pondok Gede.
Nats Khotbah diambil dari Markus , 10 : 17 – 31

Data-data ttg tema:

Ayat 17 :
Pertanyaan  dari seorang (menurut Lukas, 18:18 seorang pemimpin, pemuda yang kaya) yang berlari-lari kepada Yesus, sambil berlutut di hadapan-Nya ia bertanya:
Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup  yang kekal?
Tindakan pemuda kaya yang ber lari-lari dan berlutut di hadapan Yesus  menunjukkan akan adanya kesungguhan dan rasa hormat. Tetapi sebutan guru yang baik adalah sapaan yang sangat ganjil yang sama sekali tidak dikenal di antara orang Yahudi sebagai sebutan orang seorang Guru. Mungkin sebutan itu dimaksud sebagai suatu pujian yang berlebih-lebihan.
Sedangkan hidup yang kekal dalam gagasan orang muda yang kaya ini mungkin memiliki arti eskatologis, yaitu hidup di akhirat, yang akan diwarisi orang.
Jawaban
Ayat 18:
Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. Ayat 19. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu.
Ayat 20. Kata orang itu (yang bertanya) kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.
Ayat 21. Tetapi Yesus memandang dia (orang yang bertanya) dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.
      
Ayat 22. Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya [di bumi]

Ayat 23. Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Ayat 24. Alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Ayat 25. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam  Kerajaan Allah.
Ayat 26. Jika demikian,  siapakah yang dapat diselamatkan?
Kata Yesus, bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.

Pertanyaan Murid (Petrus) Kepada Yesus.

Ayat 28. Kata Petrus kepada Yesus: Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau!
Ayat 29. Jawab Yesus: Sesungguhnya setiap orang yang karena Aku (Yesus) dank arena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan lading, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.
Ayat 31. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi terdahulu.
Analisis/Memahami makna tema dalam format pertanyaan orang kaya dan jawaban Yesus

Siapa yang bertanya dan apa pokok pertanyaannya
Matius memberi  informasi  kepada para pembaca tentang siapa gerangan orang yang bertanya. Orang yang bertanya adalah seorang yang berlari-lari mendapatkan Yesus dan sambil berlutut dihadapan Yesus (Mark. 10:17). Dalam ayat 22 kita mendapat kepastian bahwa orang itu adalah orang yang banyak hartanya (10:22)
Lukas memberi  informasi bahwa orang yang bertanya itu adalah seorang pemimpin (Luk. 18:18), Lukas melanjutkan lagi dengan keterangan bahwa pemimpin yang bertanya kepada Yesus  itu adalah orang yang sangat kaya (Luk. 18:23).
Pokok Pertanyaan:

Guru yang baik,  “apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? (ayat 17)
Jawaban Yesus
Pertama, Yesus mulai dengan sapaan “ yang baik” yang ditujukan pada Yesus.  Mengapa kau katakana Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja (ayat. 18). Disini Yesus hendak menegaskan kepada seorang pemimpin yang kaya itu bahwa Yesus tidak hanya seorang Guru tetapi lebih dari itu Dia adalah Allah itu sendiri. Segala yang baik itu hanya berasal dari Allah.
Kedua, terhadap pertanyaan: apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?. Yesus mulai dengan jawaban berdasarkan hukum Taurat, yaitu Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu.
Jawab orang kaya itu.  Guru semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.
Jawab Yesus: Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di Sorga, kemudian datanglah  ke mari dan ikutlah Aku.
Nasehat Yesus kepada murid-murid-Nya (ayat 23): Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk dalam kerajaan Allah (salah satunya mengikuti Yesus).
Kisah pertemuan Yesus dengan pemuda yang kaya, yang karena kekayaannya tidak dapat mengambil keputusan  mengikuti Yesus, disambung dengan bahaya kekayaan (ayat 23-27), dan berkat yang terletak dalam perbuatan mengikuti Yesus (ayat 28 – 31).
Namun harus kita ingat bahwa cerita pemuda yang kaya ini dianggap sebagai penolakan kekayaan secara umum. Namun kisah ini dapat dibaca sebagai bahan bukti kebenaran ini: kekayaan dapat mempersulit iktiar mengikuti Yesus. Hal mengikut Yesus itulah yang menjadi perkara pokok dalam bacaan ini.
Jadi tentang hidup kekal yang ditanyakan oleh pemimpin kaya ini tidak diwarisi/menerima karena perbuatannya tetapi mewarisinya dari Allah berdasarkan rahmat (kasih karunia). Menerima hidup kekal bersama dengan Yesus.
Apa maknanya bagi kita
1.   Mewarisi  perbutan baik sebagai bagian dari bukti keselamatan yang sudah kita terima (mendapat harta di sorga) (ayat 21 – berikanlah itu kepada orang miskin)
2.   Mewarisi mengikut Yesus walaupun disertai dengan berbagai kesusahan (ayat 21)
Ada yang karena kekayaan meninggalkan Yesus di Kantor, di Perusahan dll
3.   Mewarisi kepastian keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus ditengah-tengah kehidupan bersama komunitas lain (ayat 26- 27)
4.   Mewarisi  kewaspadaan akan bahaya kekayaan (ayat 23).

Monday, October 10, 2011

Guru Mendisain Tujuan Instruksional Pembelajaran


 

Dalam postingan tgl. 30 Juni 2011, saya sudah memaparkan pokok 1 dari model pembelajaran Yesus menurut Injil Matius, yaitu Guru mencari Murid (Mat. 4:18). Dalam ayat 18, kita mendapat informasi dari Matius tentang Guru Agung yaitu Yesus Kristus mencari murid (guru mencari murid). Dalam postingan ini, saya  memaparkan pokok kedua, yaitu Yesus Guru Agung itu telah mendisain tujuan instruksional pembelajaran-Nya sejak kekekalan. Tujuan seperti apa yang disampaikan dalam laporan Matius, akan kita lihat dalam bahasan berikut.

Para pembaca blog Yesus Guru Agung yang saya kasihi, baik yang berada di Mallaysia, Amerika, Hongkong, Jepang, Mongolia dan negara-negara lain yang berkenaan membaca blog ini, saya Yonas Muanley, hanyalah pelayan firman Allah, yang ingin menyampaikan apa yang saya pahami dari pendekatan Edukatif. 

Dasar pembahasan tentang pokok kedua Guru Mendisain Tujuan Instruksional Pembelajaran didasarkan pada Matius 4:19 yang isinya sbb: Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

Mari, ikutilah Aku adalah ajakan dan perintah[1]. Ajakan dan perintah dari Guru Agung yaitu Yesus Kristus. Ajakan dan perintah yang membawa murid-murid-Nya pada tujuan dari ajakan dan perintah itu yaitu pada kata:

Kamu akan Ku (Yesus) jadikan penjala manusia (Mat. 4:19). Berdasarkan data ini, telah menjadi jelas bahwa tujuan instruksi atau tujuan instruksional yaitu perubahan seperti apa yang hendak terjadi dalam diri para murid setelah mereka mengikuti pengajaran Yesus. Berdasarkan Matius 4:19 menjadi jelas bahwa perubahan yang diharapkan Yesus Guru Agung itu tidak lain adalah murid-murid mampu menjadi penjala ikan.

Apa maksud menjadi penjala manusia?

Menjadi penjala manusia dapat berarti alih profesi, yaitu dari mampu menjala ikan beralih menjadi mampu menjala manusia. Jala adalah sebuah alat untuk menankap ikan. Ada banyak cara menangkap ikan, salah satunya adalah jala. Untuk menangkap ikan diperlukan kemampuan. Kemampuan dalam hal mempergunakan jala, kemampuan mengetahui di mana ikan berada, kemampuan mengetahui cuaca yang cocok untuk menangkap ikan, dll.

Kemampuan murid-murid dalam menangkap ikan tidak dapat diragukan. Boleh kita katakan, murid-murid-Nya telah memiliki kompetensi menangkap ikan. Dalam konteks kemampuan itu, Yesus memanggil mereka dan menyampaikan kepada mereka bahwa mereka akan dijadikan penjala manusia. Artinya melalui murid-murid itulah akan ada orang lain yang mendengar Injil Yesus Kristus dan menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Selanjutnya para pembaca dapat mencari informasi dari rekan-rekan Biblika (ahli tafsir Alkitab) akan arti dari menjadi penjala manusia dalam pendekatan teologi eksegesis. Apa yang ingin saya sampaikan disini adalah pengajaran Yesus kepada murid-murid yang didahului dengan penyampaian tujuan.

Penentuan tujuan itu sangat penting karena berdasarkan tujuan tersebut dipilih prosedur-prosedur pembelajaran yang memungkinkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan yang dibahas disini adalah menjadi penjala manusia. Dengan memahami tujuan tersebut maka akan menolong guru memilih prosedur-prosedur pengajaran. Prosedur pengajaran/ yang dimaksud itu seperti pemilihan metode pengajaran, media pengajaran, tempat pengajaran dll. (akan dibahas dalam postingan berikut).

Apa yang dilakukan Yesus Guru Agung dalam laporan Matius 4:19 dengan teori model Instruksional  yang beracuan tujuan
Dalam teori disain intruksional, khususnya model instruksional yang beracuan tujuan dinyatakan bahwa tujuan  pengajaran adalah perubahan apakah yang saya/guru inginkan dalam diri peserta didik yang mengikuti pelajaran saya. Dengan kata lain, tujuan instruksional pembelajaran adalah perubahan-perubahan yang diharapkan guru yang akan terjadi dalam diri peserta didik selama atau setelah selesai mengikuti proses pembelajaran. 
Berdasarkan informasi di atas, menjadi jelas bahwa setiap guru hendaknya mampu merumuskan tujuan pengajaran. Usaha atau perhatian terhadap kewajiban guru untuk memikirkan tujuan-tujuan instruksionalnya secara jelas telah menjadi perhatian positif. Keuntungan yang paling utama dari adanya perhatian pada tujuan-tujuan instruksional yang spesifik ialah adanya dorongan pada pihak guru untuk memikirkan pertanyaan: perubahan-perubahan apakah yang saya (guru) inginkan terjadi dalam diri siswa saya? . Dengan kata lain model instruksional yang beracuan tujuan mula-mula memperhatikan soal perilaku yang seharusnya ditunjukkan oleh siswa pada akhir pengajaran. Stelah perilaku siswa yang diinginkan itu, yaitu tujuan dirumuskan secara spesifik, pemilihan prosedur pengajaran menjadi  mudah sekali dan pada umumnya, jauh lebih efektif. Perubahan apakah yang saya inginkan dalam diri siswa-siswi saya?[2]
Jadi, model pembelajaran Yesus Kristus menurut Matius ialah Guru mampu merumuskan dan memberithukan  tujuan pengajaran  yang jelas kepada peserta didik.
Implikasi
Jadilah pengajar yang memiliki kemampuan merumuskan tujuan pengajaran. Bila kita mendapat peluang untuk mengajar, jangan lupa memikirkan, merenungkan, menetapkan tujuan dari mata kuliah/mata pelajaran/bahan seminar yang akan kita sampaikan kepada pendengar. Tujuan pengajaran untuk materi yang kita akan sampaikan adalah perubahan apa yang saya harapkan terjadi pada mahasiswa/peserta didik/murid/pendengar. Dengan kata lain, ketika kita hendak mengajar, yang pertama kita pikirkan adalah perubahan apakah yang saya ingingkan terjadi dalam diri siswa-siswi/pelajar/mahasiswa/peserta didik saya?
Selamat melatih diri merumuskan tujuan, sampaikan tujuan tersebut dan capailah tujuan itu dengan menentukan prosesdur pembelajaran. Pembahasan tentang penentukan dan penggunaan prosedur pembelajaran, akan disajikan dalam postingan berikut.
               


[1] Tafsiran Alkitab Masa Kini
[2] W.James Popham dan Eva L. Baker, Jakarta : Rineka Cipta, 2005

Thursday, June 30, 2011

Model Pembelajaran Yesus Menurut Injil Matius


1. Guru Mencari Murid (Mat. 4:18)

Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia. Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.
Pembelajaran model guru mencari murid merupakan model yang terdapat pada guru-guru/rabi-rabi di kalangan Yahudi pada waktu itu. Para rabi selalu mencari murid-murid untuk dijadikan sebagai pengikutnya. Hal yang menarik pada laporan Matius adalah Yesus mencari murid dengan cara berjalan menyusur danau Galilea, model ini asing bagi para guru di zaman itu. Awal pencarian murid adalah orang-orang dewasa yang bekerja sebagai nelayan di danau Galilea. Yesus mencari dan menemukan murid-murid serta memanggil mereka menjadi pengikut (murid) dengan tujuan yang sangat jelas: “… Kamu akan Kujadikan penjala manusia”.
Matius menarasikan Yesus seorang guru yang mencari murid dengan tujuan yang jelas, sebab dengan tujuan yang jelaslah maka akan mempengaruh seluruh proses pembelajaran. Guru yang mengajar akan jelas sasaran, murid yang mengikuti proses pembelajaran pun jelas arahnya.
Jadi, guru mencari murid dengan tujuan pembelajaran yang jelas. Tujuan pembelajaran dalam Matius adalah Murid-murid mampu menjadi penjala manusia. dapatlah kita katakana sebagai model pembelajaran Yesus menurut Injil Matius
Tetapkan tujuan, cari murid dan beritahukanlah mereka tentang tujuan tersebut.
Implikasinya bagi guru PAK adalah jadilah guru yang mencari murid, pahamilah tujuan PAK secara baik, beritahukan kepada peserta didik dan didiklah berdasarkan tujuan tersebut. Artinya yang ada dalam hati dan pikiran guru adalah bagaimana saya menjadikan orang-orang yang dipercayakan menjadi murid.
Berlanjut …

Friday, May 8, 2009

Guru dan Murid


Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Dalam ayat ini paling tidak disinggung guru dan murid. By. J.Muanley,M.Th.
Ayat ini dalam konteks paradigma misi/penginjilan dipahami sebagai Amant Agung. Dalam dalam konteks Pendidikan Kristen, saya memahaminya sebagai Instruksi Teragung dari Sang Guru Agung kepada para pendidik Kristen sepanjang zaman, di manapun, kapanpun, berada dalam instruksi ini. Mengajar adalah memberi instruksi yang jelas kepada pendengar (murid/siswa/peserta didik/mahasiswa/anggota jemaat) akan apa yang hendak dilakukan. Instruksi Yesus dalam teks ini sangat jelas, "Jadikanlah sekalian bangsa menjadi murid-Ku". Frasa ini didahului dengan kata "pergi". Yesus dari kota ke kota dan dari desa ke desa, kota ke desa, desa ke kota untuk "mengajar" dan memberitakan Injil Kerjaan Allah dan melenyapkan segala kelemahan (mujizat-mujizad kesembuhan: orang yang dirasuk setan, disembuhkan, yang tuli mendengar, yang buta melihat). Yesus melakukan tiga hal: (1) Mengajar/berdidaktik, (2) memberitakan (kerusso), (3) melenyapkan kelemahan/kesembuhan (bagian ini lebih banyak terasa dalam diri kaum awam, saudara-saudara kita Pentakosta, Kharismatik, orang-orang yang terlibat dalam Persekutuan Doa: Mereka berdoa dalam nama Yesus dan orang yang didoakan sembuh, yang lumpuh disembuhkan dalam kuasa doa berdasarkan nama Yesus). Nama ini sangat ajaib, akan tetapi banyak yang tidak suka nama Yesus, orang Kristen kadang enggan menyebut nama ini ketika ada dalam komunitas keyakinan lain, pendekatan biasanya teosentris (hanya menyebut nama TUHAN). Saya pernah memikirkankan: Apakah ada orang yang memiliki pengalaman berdoa dalam nama Tuhan setan atau penyakit disebuhkan? Akan tetapi yang saya tau dan alami biasanya orang sering menengking setan atau mendoakan orang lumpuh "dalam nama Yesus" jarang dalam nama Tuhan. Mungkin perlu eksperimen dua kelompok. Satu kelompok memakai nama Tuhan untuk mendoakan orang yang dirasuk setan atau penyakit tertentu, sedangkan satu kelompok lagi menggunakan "nama Tuhan Yesus". Mungkin kelompok kedua akan menyampaikan hasil mereka bahwa banyak terjadi mujizat ketika memakai nama Yesus, sedangkan kelompok yang menggunakan nama Tuhan, mungkin akan berkata tidak ada perubahan apa-apa tehadap orang sakit.
Kembali pada Instruksi Yesus dalam Matisu 28. Yesus memberi instruksi: (1) Pergi, (2) Jadikanlah sekalian bangsa menjadi urid Yesus, (3) Ajarlah mereka melakukan apa yang Yesus perintahkan. Dalam ayat ini jelas nampak bahwa "mengajar" adalah tugas yang diamanatkan oleh Yesus Kristus. Oleh karena mengajar adalah tugas yang diamanatkan Yesus maka "mengajar" adalah tugas yang termulia. Mengajar adalah tugas gereja. Bukan hanya khotbah. Sering khotbah mendapat tempat yang teratas, seakan-akan panggilan berkhotbahlah yang merupakan satu-satunya panggilan teragung dari Yesus Kristus, suatu panggilan dari Yesus Kristus yang sakral dari tugas lain seperti mengajar. Khotbah demikian dianggap panggilan yang mulia dan meleksanakan kehendak Allah oleh karena itu yang berkhotbah 30 - 100 menit mendapat penghargaan yang lebih terhormat dari Guru/dosen yang mengajar isi Alkitab dalam waktu 50 - 100 menit (2 SKS), atau 150 menit untuk 3 SKS dan diberi penghargaan ala kadarnya, sering dipakai istilah "persembahan kasih". Khotbah dan Mengajar adalah dua tugas yang sama, mestinya sama-sama dihargai dengan penghargaan yang pantas. Khotabah terjadi monolog, tidak ada pertanyaan, tidak membuat RPP, Silabus, Materi Ajar, membuat soal ujian dan mengoreksi soal tetapi ya antara 50 - 150 menit sering dihargai dengan apa adanya.
Jadi, mengajar dan khotbah adalah dua tugas yang sama dan harus dihargai secara wajar.

Matius 28 tidak hanya dilihat dalam perspektif misiologi dan pekabaran Injil tetapi dapat pula dipahami dalam perspektif didaktik. Dalam perspektif didaktik, saya hendak menegaskan bahwa Yesus memberi INSTRUKSIONAL kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Jadi hidup ini adalah hidup dalam instruksi Guru Agung yaitu Yesus Kristus. Inilah Instruksional Agung dari Guru Agung dengan sasaran INSTRUKSIONAL ILAHI yaitu agar murid-murid-Nya (Gereja: baca kita) mampu menjadikan orang lain menjadi "MURID YESUS KRISTUS. Ingat ini bukan Kristenisasi. Tidak ada gunanya Kristenisasi, orang datang kepada Tuhan karena kehendak-Nya. Jangan memaksa orang lain untuk percaya pada Yesus. Jika orang lain dikehendaki TUHAN untuk percaya kepada Yesus maka sampai kapanpun ia akan percaya.



KEMAMPUAN MELAKSANAKAN INSTRUKSIONAL YESUS KRISTUS KARENA DITOPANG DENGAN KUASA DARI YESUS KRISTUS. BIAR ORANG LAIN MENGHINA DIA (YESUS) TETAPI BAGI KITA YANG PERCAYA: DALAM NAMA YESUS ADA KUASA.
Jika ada yang tidak percaya kuasa dalam nama Yesus, silakan mengadakan riset Kualitatif terhadap sejumlah orang Kristen yang mengalami pengalaman kuasa dalam nama Yesus. Datangilah mereka yang punya pengalaman mendoakan orang dalam nama Yesus dan sembuh, datangilah orang yang mendoakan orang kerasukan setan hanya dalam nama Yesus dan sembuh. Masih banyak lagi.
Kata abang saya, apapun kata orang (hinaan orang lain ttg Yesus) yang penting baginya: Dalam nama Yesus terjadi perubahan: yang sakit sembuh, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengan hanya karena didaokan dengan menyebut “Dalam Nama Tuhan Yesus” sembuh.